Selasa, 31 Januari 2012

ADA APA DENGAN SAYA?? : Asal Muasal Rasa Minder

Bismillahirahmanirrahiim....
Akhirnyaaa, saya nulis juga,, hehe.. Setelah mikir lamaa banget, tulisan saya ini penting nggak ya,, akhirnya saya bersikap cuek dan memilih untuk punya blog dan menulis,, :D

Begini ceritanya...
Beberapa hari ini saya sedang berusaha untuk introspeksi diri saya sendiri (persiapan untuk menghadapi usia 24 tahun,, hehehehe...), dan diantara sekian banyak kekurangan yang saya temukan dalam diri saya, saya menemukan satu kekurangan yang cukup signifikan : saya ini orangnya minderan ternyata  : )

Cukup memusingkan juga menghadapi sifat minderan saya ini. Setiap saya lihat orang lain berhasil melakukan sesuatu dengan sukses, saya langsung minder; Haduuu,, saya bisa nggak ya kayak gitu.. Kok kayaknya susah...
Yang paling menyebalkan,, akhir dari semua kegalauan saya atas kekhawatiran saya bisa atau tidak melakukan apa yang orang lain bisa lakukan (dan sukses menurut saya), adalah: SAYA TIDAK MELAKUKAN APA-APA. Soalnya takut gagal,, takut dibilang nggak penting, takut diketawain, sudah merasa minder duluan..

Semakin ke belakang, saya melihat sifat satu ini berpotensi membuat saya stuck, jalan di tempat. Padahal usia saya masih muda, dan masih banyak kesempatan yang (mungkin) bisa saya peroleh, kalau saja saya tidak minder dan mau PeDe buat mencoba banyak hal..

Suatu hari, saat saya iseng dan laptop lagi nganggur karena bosen ngerjain laporan,, saya mulai menjamah rak buku yang ada di sebelah meja belajar saya. Dari penjamahan itu, saya menemukan satu teori psikologi kepribadian yang mungkin bisa menjelaskan asal muasal rasa minder dalam diri seseorang (Yah, namanya juga pembelajar dalam bidang Psikologi :D).

Ada seseorang yang bernama Erik Erikson (1902-1944). Dia mengembangkan suatu teori yang memberikan gambaran tahap perkembangan bagi setiap manusia, mulai dari lahir sampai tua. Secara garis besar, tahapannya terbagi menjadi delapan tahap:

Tahap psikososial
Usia
Hasil Positif
Hasil Negatif
 Kepercayaan dasar vs ketidakpercayaan dasar
 1 tahun
Merasakan kebaikan batin (tenang), mempercayai diri sendiri dan orang lain, optimisme
 Merasakan keburukan, ketidakpercayaan kepada diri sendiri dan kepada orang lain, pesimisme
 Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu
 2-3 tahun
 menguji niat, kontrol diri, mampu membuat pilihan
 kaku, suara hati yang berlebihan, ragu, menyadari rasa malu
 Inisiatif vs Rasa bersalah
 4-5 tahun
 Kesenangan ketika menyelesaikan tugas, aktivitas, tujuan dan arah
 Rasa bersalah atas target yang diinginkan dan pencapaian yg didapatkan
 Usaha vs Inferioritas
 Latensi
 Dapat asyik dalam kegiatan produktif, merasa bangga dengan pekerjaan yang selesai
 Merasakan ketidaklayakan dan inferioritas; tidak dapat menyelesaikan tugas
 Identitas vs Peran
 Remaja
 Percaya diri, rasa malu, dan kontinuitas; harapan berkarier
 Santai dalam menjalani peran, tidak ada standar baku, memahami secara dangkal
 Intimasi vs Isolasi
 Masa Dewasa Awal
 Mutualitas, berbagi pikiran, pekerjaan, perasaan
 Menghindari intimasi, hubungan dangkal
 Generativitas vs Stagnasi
 Masa Dewasa
 Kemampuan untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan hubungan
 Kehilangan minat bekerja, hubungan memburuk

 Integritas vs Putus Asa
Tahun-tahun akhir hidup
 Memahami keteraturan dan makna, puas dengan diri sendiri dan prestasi dirinya
 Takut mati, menyesali hidup dan apa yang dia dapatkan, atau apa yang tidak terjadi dalam hidup


Naaahhhh,, cukup sudah dengan teorinyaaa.....

Sekarang saya balik curhat lagi,, (hahahaha). Saya inget banget, waktu saya kelas dua SD, Kepala Sekolah dan guru saya itu kompakan banget untuk menghalang-halangi saya dalam bertanya. Saya inget kalau saya termasuk murid yang sangat sering punya keinginan untuk bertanya, dan karena saya sering buanget bertanya, maka jengkel lah guru saya. Saya juga sih,, mungkin pertanyaan saya dulu banyak nggak pentingnya kali ya,, hehe.. Yang bikin efek negatif adalah guru saya kemudian melabel saya dengan sebutan-sebutan buruk, dan bahkan memanggil ibu saya saat penerimaan raport untuk menasehati saya agar tidak sering bertanya. Guru saya  bilang kepada saya, kalau bertanya itu yang penting aja, jangan kebanyakan nanya.. Dan hal itu membuat saya kemudian merasa down,, dan selalu berpikir panjang kali lebar bin lama setiap kali mau mengacungkan jari untuk bertanya. Kenapa? Karena saya takut pertanyaan saya itu sebenernya nggak penting, jadi saya mikir lamaaaaaaa banget : Ini penting nggak ya, penting nggak ya (sambil hitung kancing,, hahaha). Dan karena akhirnya seringkali saya merasa takut dianggap nggak penting pertanyaannya, akhirnya yang terjadi adalah : SAYA TIDAK BERTANYA APAPUN, hehe...

Ibu saya pun akhirnya menasehati saya dengan berbagai macam nasehat agar saya mengontrol diri saya untuk tidak banyak bertanya di kelas. Situasi semacam ini terjadi sampai saya kelas enam SD.

Kalau dikaitkan dengan teori Erikson,, saya sepertinya terhambat pada tahapan Usaha vs Inferioritas. Saya jadinya sering merasa inferior/ minder. Perasaan ini terjadi karena saya seringkali harus mikir, apa yang saya lakukan ini penting nggak ya, dan karena label buruk guru saya kepada mayoritas kelakuan saya di kelas (dianggap nggak penting), akhirnya saya pun cenderung merasa bahwa apa yang saya lakukan itu nggak penting dan nggak sehebat temen-temen saya yang lain, maka tumbuh lah MINDER saya... Dan nggak heran juga waktu Erikson bilang bahwa penyelesaian satu tahap akan berdampak pada penyelesaian tahap-tahap selanjutnya, saya pun merasakan bahwa terhambatnya saya pada tahap itu masih kebawa sampe sekarang

Beberapa hari ini, saya browse cara-cara mengatasi minder (biar bisa mengobati diri sendiri, hehe). Satu yang saya anggap oke adalah dari sini :
10 cara mengatasi masalah rasa minder (Inferiority complex) menurut Norman Vincent Peale :

1. Formulasikan dan camkan di pikiran anda tentang gambaran mental diri anda sendiri yang sukses. Pertahankan gambaran didi ini, dan jangan pernah biarkan menjadi kabur. Otak anda akan berusaha keras mangembangkan dan merealisasikan gambaran ini. Jangan pernah berpikir diri anda gagal; jangan pernah meraguka relita imajinasi mental tentang kesuksesan. Benak kita selalu berusaha keras mewujudkan apa yang digambarkan. Karena itu, selalulah menggambarkan “kesuksesan” tak peduli berapa buruknya keadaan fakta yang tampak kala.

2. Setiap kali pemikiran-pemikiran negatif tentang kekuatan personal amda muncul diotak, segeralah menyuarakan pemikiran-pemikiran positif untuk menghadangnya.

3. Jangan membangun rintangan-rintangan dalam imajinasi anda sendiri. Kikis setiap rintangan itu. Kurangilah hingga sedikit mungkin. Segala kesulian harus dipelajari lalu dihadapi secara efisien dengan tujuan untuk disingkirkan.

4. Jangan kagum berlebihan pada seseorang sehingga anda mencoba anda meniru dia. Tak seorang pun bener-benar bisa menjadi dia selain dia sendiri. Ingat meski dia berpenampilan dan berprilaku sangat percaya diri, tak jarang mereka juga punya perasaan takut atau ragu.

5. Sedikitnya sepuluh kali sehari, ulangi kata-kata dinamis ini; ”Jika tuhan bersama saya, siapa yang bisa menghalangi saya?”. Ucapkan kalimat itu SEKARANG dengan perlahan tapi mantap untuk membangkitkan kepercayaandiri sendiri.

6. Cari penasihat yang kompeten untuk konsultasi sehingga anda lebih mudah memahami mengapa anda melakukan hal yang anda lakukan. Pelajari akar dari rasa rendah diri dan keraguan yang sering mulai muncul pada masa anak-anak. Pengetahuan terhadap diri sendiri itu bisa menggampangkan penyembuhan. (yang ini uda kan di atas tadi,, hehe)

7. Sedikitnya sepuluh kali dalam sehari, latihan penegasan berikut ini. Ulangi kata-katanya dan ucapkan dengan keras jika mungkin.”Saya bisa melakukan segalanya melalui Tuhan yang telah memperkuat saya”. Ulangi kalimat itu SEKARANG. Perntataan ajaib itu obat paling mujarab untuk mengatasi pikiran-pikiran rendahdiri.

8. Hitung perkiraan kemampuan anda sendiri, lalu naikkan 10%. Jangan jadi egoistis, tapi kembangkan penghargaan pada diri sendiri. Yakni pada kekuatan anda yang sudah dikeluarkan Tuhan.

9. Pasrahkan diri anda pada takdir Tuhan. Untuk melakukannya, nyatakanlah; “Saya berada di tangan Tuhan”. Lalu yakinilah SEKARANG anda menerima semua kekuatan yang anda butuhkan.”Rasakan” alirannya keseluruh tubuh anda. Yakinkan diri anda bahwa “Tuhan bersama anda” dalam bentuk kekuatan yang memadai untuk memenuhi tuntunan hidup.

10. Ingatkan diri andabahwa Tuhan selalu menyertai diri anda sehingga tak ada sesuatu pun yang mengalahkan anda. Percayalah bahwa sekarang anda KEKUATAN dari Tuhan.


(fitria95.wordpress.com)

Saya juga lagi belajar nih sekarang... Semoga sukses,, hehe..

PESAN MORAL: Hati hatiiiii kalau jadi guru atau pendidik,, dan orang tua... Apa yang anda lakukan bisa mempengaruhi perkembangan anak anda ke depannya, dan juga tentunya masa depannya. Jadi efeknya jangka panjang.. So becareful,, pikirkan efeknya. Kasihan anak-anak anda..