Bismillahirahmanirrahiim....
Akhirnyaaa, saya nulis juga,, hehe.. Setelah mikir lamaa banget, tulisan saya ini penting nggak ya,, akhirnya saya bersikap cuek dan memilih untuk punya blog dan menulis,, :D
Begini ceritanya...
Akhirnyaaa, saya nulis juga,, hehe.. Setelah mikir lamaa banget, tulisan saya ini penting nggak ya,, akhirnya saya bersikap cuek dan memilih untuk punya blog dan menulis,, :D
Begini ceritanya...
Beberapa
hari ini saya sedang berusaha untuk introspeksi diri saya sendiri
(persiapan untuk menghadapi usia 24 tahun,, hehehehe...), dan diantara
sekian banyak kekurangan yang saya temukan dalam diri saya, saya
menemukan satu kekurangan yang cukup signifikan : saya ini orangnya
minderan ternyata : )
Cukup
memusingkan juga menghadapi sifat minderan saya ini. Setiap saya lihat
orang lain berhasil melakukan sesuatu dengan sukses, saya langsung
minder; Haduuu,, saya bisa nggak ya kayak gitu.. Kok kayaknya susah...
Yang
paling menyebalkan,, akhir dari semua kegalauan saya atas kekhawatiran
saya bisa atau tidak melakukan apa yang orang lain bisa lakukan (dan
sukses menurut saya), adalah: SAYA TIDAK MELAKUKAN APA-APA. Soalnya
takut gagal,, takut dibilang nggak penting, takut diketawain, sudah
merasa minder duluan..
Semakin ke belakang, saya melihat sifat satu ini berpotensi membuat saya stuck,
jalan di tempat. Padahal usia saya masih muda, dan masih banyak
kesempatan yang (mungkin) bisa saya peroleh, kalau saja saya tidak
minder dan mau PeDe buat mencoba banyak hal..
Suatu
hari, saat saya iseng dan laptop lagi nganggur karena bosen ngerjain
laporan,, saya mulai menjamah rak buku yang ada di sebelah meja belajar
saya. Dari penjamahan itu, saya menemukan satu teori psikologi
kepribadian yang mungkin bisa menjelaskan asal muasal rasa minder dalam
diri seseorang (Yah, namanya juga pembelajar dalam bidang Psikologi :D).
Ada
seseorang yang bernama Erik Erikson (1902-1944). Dia mengembangkan
suatu teori yang memberikan gambaran tahap perkembangan bagi setiap manusia, mulai dari lahir sampai tua. Secara garis besar, tahapannya terbagi menjadi delapan tahap:
Tahap psikososial
|
Usia
|
Hasil Positif
|
Hasil Negatif
|
Kepercayaan dasar vs ketidakpercayaan dasar
|
1 tahun
|
Merasakan kebaikan batin (tenang), mempercayai diri sendiri dan orang lain, optimisme
|
Merasakan keburukan, ketidakpercayaan kepada diri sendiri dan kepada orang lain, pesimisme
|
Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu
|
2-3 tahun
|
menguji niat, kontrol diri, mampu membuat pilihan
|
kaku, suara hati yang berlebihan, ragu, menyadari rasa malu
|
Inisiatif vs Rasa bersalah
|
4-5 tahun
|
Kesenangan ketika menyelesaikan tugas, aktivitas, tujuan dan arah
|
Rasa bersalah atas target yang diinginkan dan pencapaian yg didapatkan
|
Usaha vs Inferioritas
|
Latensi
|
Dapat asyik dalam kegiatan produktif, merasa bangga dengan pekerjaan yang selesai
|
Merasakan ketidaklayakan dan inferioritas; tidak dapat menyelesaikan tugas
|
Identitas vs Peran
|
Remaja
|
Percaya diri, rasa malu, dan kontinuitas; harapan berkarier
|
Santai dalam menjalani peran, tidak ada standar baku, memahami secara dangkal
|
Intimasi vs Isolasi
|
Masa Dewasa Awal
|
Mutualitas, berbagi pikiran, pekerjaan, perasaan
|
Menghindari intimasi, hubungan dangkal
|
Generativitas vs Stagnasi
|
Masa Dewasa
|
Kemampuan untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan hubungan
|
Kehilangan minat bekerja, hubungan memburuk
|
Integritas vs Putus Asa
|
Tahun-tahun akhir hidup
|
Memahami keteraturan dan makna, puas dengan diri sendiri dan prestasi dirinya
|
Takut mati, menyesali hidup dan apa yang dia dapatkan, atau apa yang tidak terjadi dalam hidup
|
Naaahhhh,, cukup sudah dengan teorinyaaa.....
Sekarang saya balik curhat lagi,, (hahahaha). Saya inget banget, waktu saya kelas dua SD, Kepala Sekolah dan guru saya itu kompakan banget untuk menghalang-halangi saya dalam bertanya. Saya inget kalau saya termasuk murid yang sangat sering punya keinginan untuk bertanya, dan karena saya sering buanget bertanya, maka jengkel lah guru saya. Saya juga sih,, mungkin pertanyaan saya dulu banyak nggak pentingnya kali ya,, hehe.. Yang bikin efek negatif adalah guru saya kemudian melabel saya dengan sebutan-sebutan buruk, dan bahkan memanggil ibu saya saat penerimaan raport untuk menasehati saya agar tidak sering bertanya. Guru saya bilang kepada saya, kalau bertanya itu yang penting aja, jangan kebanyakan nanya.. Dan hal itu membuat saya kemudian merasa down,, dan selalu berpikir panjang kali lebar bin lama setiap kali mau mengacungkan jari untuk bertanya. Kenapa? Karena saya takut pertanyaan saya itu sebenernya nggak penting, jadi saya mikir lamaaaaaaa banget : Ini penting nggak ya, penting nggak ya (sambil hitung kancing,, hahaha). Dan karena akhirnya seringkali saya merasa takut dianggap nggak penting pertanyaannya, akhirnya yang terjadi adalah : SAYA TIDAK BERTANYA APAPUN, hehe...
Ibu saya pun akhirnya menasehati saya dengan berbagai macam nasehat agar saya mengontrol diri saya untuk tidak banyak bertanya di kelas. Situasi semacam ini terjadi sampai saya kelas enam SD.
Kalau dikaitkan dengan teori Erikson,, saya sepertinya terhambat pada tahapan Usaha vs Inferioritas. Saya jadinya sering merasa inferior/ minder. Perasaan ini terjadi karena saya seringkali harus mikir, apa yang saya lakukan ini penting nggak ya, dan karena label buruk guru saya kepada mayoritas kelakuan saya di kelas (dianggap nggak penting), akhirnya saya pun cenderung merasa bahwa apa yang saya lakukan itu nggak penting dan nggak sehebat temen-temen saya yang lain, maka tumbuh lah MINDER saya... Dan nggak heran juga waktu Erikson bilang bahwa penyelesaian satu tahap akan berdampak pada penyelesaian tahap-tahap selanjutnya, saya pun merasakan bahwa terhambatnya saya pada tahap itu masih kebawa sampe sekarang
Sekarang saya balik curhat lagi,, (hahahaha). Saya inget banget, waktu saya kelas dua SD, Kepala Sekolah dan guru saya itu kompakan banget untuk menghalang-halangi saya dalam bertanya. Saya inget kalau saya termasuk murid yang sangat sering punya keinginan untuk bertanya, dan karena saya sering buanget bertanya, maka jengkel lah guru saya. Saya juga sih,, mungkin pertanyaan saya dulu banyak nggak pentingnya kali ya,, hehe.. Yang bikin efek negatif adalah guru saya kemudian melabel saya dengan sebutan-sebutan buruk, dan bahkan memanggil ibu saya saat penerimaan raport untuk menasehati saya agar tidak sering bertanya. Guru saya bilang kepada saya, kalau bertanya itu yang penting aja, jangan kebanyakan nanya.. Dan hal itu membuat saya kemudian merasa down,, dan selalu berpikir panjang kali lebar bin lama setiap kali mau mengacungkan jari untuk bertanya. Kenapa? Karena saya takut pertanyaan saya itu sebenernya nggak penting, jadi saya mikir lamaaaaaaa banget : Ini penting nggak ya, penting nggak ya (sambil hitung kancing,, hahaha). Dan karena akhirnya seringkali saya merasa takut dianggap nggak penting pertanyaannya, akhirnya yang terjadi adalah : SAYA TIDAK BERTANYA APAPUN, hehe...
Ibu saya pun akhirnya menasehati saya dengan berbagai macam nasehat agar saya mengontrol diri saya untuk tidak banyak bertanya di kelas. Situasi semacam ini terjadi sampai saya kelas enam SD.
Kalau dikaitkan dengan teori Erikson,, saya sepertinya terhambat pada tahapan Usaha vs Inferioritas. Saya jadinya sering merasa inferior/ minder. Perasaan ini terjadi karena saya seringkali harus mikir, apa yang saya lakukan ini penting nggak ya, dan karena label buruk guru saya kepada mayoritas kelakuan saya di kelas (dianggap nggak penting), akhirnya saya pun cenderung merasa bahwa apa yang saya lakukan itu nggak penting dan nggak sehebat temen-temen saya yang lain, maka tumbuh lah MINDER saya... Dan nggak heran juga waktu Erikson bilang bahwa penyelesaian satu tahap akan berdampak pada penyelesaian tahap-tahap selanjutnya, saya pun merasakan bahwa terhambatnya saya pada tahap itu masih kebawa sampe sekarang
Beberapa hari ini, saya browse cara-cara mengatasi minder (biar bisa mengobati diri sendiri, hehe). Satu yang saya anggap oke adalah dari sini :
10 cara mengatasi masalah rasa minder (Inferiority complex) menurut Norman Vincent Peale :
1. Formulasikan dan camkan di pikiran anda tentang gambaran mental
diri anda sendiri yang sukses. Pertahankan gambaran didi ini, dan jangan
pernah biarkan menjadi kabur. Otak anda akan berusaha keras
mangembangkan dan merealisasikan gambaran ini. Jangan pernah berpikir
diri anda gagal; jangan pernah meraguka relita imajinasi mental tentang
kesuksesan. Benak kita selalu berusaha keras mewujudkan apa yang
digambarkan. Karena itu, selalulah menggambarkan “kesuksesan” tak peduli
berapa buruknya keadaan fakta yang tampak kala.
2. Setiap kali pemikiran-pemikiran negatif tentang kekuatan personal amda muncul diotak, segeralah menyuarakan pemikiran-pemikiran positif untuk menghadangnya.
3. Jangan membangun rintangan-rintangan dalam imajinasi anda sendiri. Kikis setiap rintangan itu. Kurangilah hingga sedikit mungkin. Segala kesulian harus dipelajari lalu dihadapi secara efisien dengan tujuan untuk disingkirkan.
4. Jangan kagum berlebihan pada seseorang sehingga anda mencoba anda meniru dia. Tak seorang pun bener-benar bisa menjadi dia selain dia sendiri. Ingat meski dia berpenampilan dan berprilaku sangat percaya diri, tak jarang mereka juga punya perasaan takut atau ragu.
5. Sedikitnya sepuluh kali sehari, ulangi kata-kata dinamis ini; ”Jika tuhan bersama saya, siapa yang bisa menghalangi saya?”. Ucapkan kalimat itu SEKARANG dengan perlahan tapi mantap untuk membangkitkan kepercayaandiri sendiri.
6. Cari penasihat yang kompeten untuk konsultasi sehingga anda lebih mudah memahami mengapa anda melakukan hal yang anda lakukan. Pelajari akar dari rasa rendah diri dan keraguan yang sering mulai muncul pada masa anak-anak. Pengetahuan terhadap diri sendiri itu bisa menggampangkan penyembuhan. (yang ini uda kan di atas tadi,, hehe)
7. Sedikitnya sepuluh kali dalam sehari, latihan penegasan berikut ini. Ulangi kata-katanya dan ucapkan dengan keras jika mungkin.”Saya bisa melakukan segalanya melalui Tuhan yang telah memperkuat saya”. Ulangi kalimat itu SEKARANG. Perntataan ajaib itu obat paling mujarab untuk mengatasi pikiran-pikiran rendahdiri.
8. Hitung perkiraan kemampuan anda sendiri, lalu naikkan 10%. Jangan jadi egoistis, tapi kembangkan penghargaan pada diri sendiri. Yakni pada kekuatan anda yang sudah dikeluarkan Tuhan.
9. Pasrahkan diri anda pada takdir Tuhan. Untuk melakukannya, nyatakanlah; “Saya berada di tangan Tuhan”. Lalu yakinilah SEKARANG anda menerima semua kekuatan yang anda butuhkan.”Rasakan” alirannya keseluruh tubuh anda. Yakinkan diri anda bahwa “Tuhan bersama anda” dalam bentuk kekuatan yang memadai untuk memenuhi tuntunan hidup.
10. Ingatkan diri andabahwa Tuhan selalu menyertai diri anda sehingga tak ada sesuatu pun yang mengalahkan anda. Percayalah bahwa sekarang anda KEKUATAN dari Tuhan.
(fitria95.wordpress.com)
Saya juga lagi belajar nih sekarang... Semoga sukses,, hehe..
PESAN MORAL: Hati hatiiiii kalau jadi guru atau pendidik,, dan orang tua... Apa yang anda lakukan bisa mempengaruhi perkembangan anak anda ke depannya, dan juga tentunya masa depannya. Jadi efeknya jangka panjang.. So becareful,, pikirkan efeknya. Kasihan anak-anak anda..
Saya juga lagi belajar nih sekarang... Semoga sukses,, hehe..
PESAN MORAL: Hati hatiiiii kalau jadi guru atau pendidik,, dan orang tua... Apa yang anda lakukan bisa mempengaruhi perkembangan anak anda ke depannya, dan juga tentunya masa depannya. Jadi efeknya jangka panjang.. So becareful,, pikirkan efeknya. Kasihan anak-anak anda..
wew..gurunya jahatttttt...
BalasHapussemangat ya mbak :) memang harus dimotivasi dari dalam diri
btw, kepribadian melankolis-kah?
iya,, kayaknya melankolis nih mbak,, hehehehehehehe.......
BalasHapuslagi mengobati diri sendiri juga nih :D
makasii semangatnya... :)
semangat juga buat mbak yaaa.. :)
Super sekali bu dosen :D
BalasHapussemoga jd pengajar yg mampu mengangkat utamanya moral generasi penerus, bu..